Kasih Ibu Tiada Tara

22 Oktober 2008 - Leave a Response

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering meratapi nasibnya memikirkan anaknya yang mempunyai
tabiat sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mabuk, dan melakukan tindakan-tindakan negatif lainnya. Ia selalu berdoa memohon, “Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi ini, supaya tidak berbuat dosa lagi.
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.” Tetapi, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya.

Suatu hari, dia dibawa kehadapan raja untuk diadili setelah tertangkap lagi saat mencuri dan melakukan kekerasan di rumah penduduk desa. Perbuatan jahat yang telah dilakukan berkali-kali, membawanya dijatuhi
hukuman pancung. Diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan di depan rakyat desa keesokan harinya, tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu membuat si ibu menangis sedih. Doa pengampunan terus dikumandangkannya sambil dengan langkah tertatih dia mendatangi raja untuk memohon anaknya jangan dihukum mati. Tapi keputusan tidak bisa dirubah! Dengan hati hancur, ibu tua kembali ke rumah.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat telah berkumpul di lapangan pancung. Sang algojo tampak bersiap dan si anak pun pasrah menyesali nasib dan menangis saat terbayang wajah ibunya yang sudah tua.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun setelah lewat lima menit dari pukul 06.00, lonceng belum berdentang. Suasana pun mulai berisik. Petugas lonceng pun kebingungan karena sudah sejak tadi dia
menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tibatiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Seluruh hadirin berdebar-debar menanti, apa gerangan yang terjadi? Ternyata di
dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul dan menggantikannya dengan kepalanya membentur di dinding lonceng.

Si ibu mengorbankan diri untuk anaknya. Malam harinya dia bersusah payah memanjat dan mengikatkan dirinya ke bandul di dalam lonceng, agar lonceng tidak pernah berdentang demi menghindari hukuman pancung anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung menyaksikan tubuh ibunya terbujur bersimbah darah. Penyesalan selalu datang terlambat!

Pembaca yang budiman,

Kasih ibu kepada anaknya sungguh tiada taranya. Betapun jahat si anak, seorang ibu rela berkorban dan akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Maka selagi ibu kita masih hidup, kita layak melayani, menghormati,
mengasihi, dan mencintainya. Perlu kita sadari pula suatu hari nanti, kitapun akan menjadi orang tua dari anak-anak kita, yang pasti kita pun ingin dihormati, dicintai dan dilayani sebagaimana layaknya sebagai
orang tua.

Bila hidup diantara keluarga ataupun sebagai sesama manusia jika kita bisa saling menghargai, menyayangi, mencintai, dan melayani, niscaya hidup ini akan terasa lebih indah dan membahagiakan.

Andrie Wongso

Malaikat Dunia

27 Agustus 2008 - Leave a Response

Suatu ketika…
seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia.

Menjelang diturunkannya, ia bertanya kepada Tuhan.
“Para melaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimkanku ke dunia. Tapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah” kata si bayi

Tuhan menjawab,
“Aku telah memilih satu malaikat untukmu. ia akan menjaga dan mengasihimu”

“Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa.
Ini cukup bagi saya untuk bahagia” Demikian kata si bayi

Tuhan pun menjawab,
“Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia”

Si bayi pun bertanya kembali
“Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?”

Sekali lagi Tuhan menjawab,
“Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo’a”

Si bayi masih belum puas. ia pun bertanya lagi,

“Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?”

Dengan penuh kesabaran Tuhan menjawab,
“Malaikatmu akan melindungimu bahkan dengan taruhan jiwanya sekalipun”

Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya,
“Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi”

Dan Tuhan pun menjawab,
“Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku. Dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku. walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu”

Saat itu surga begitu tenangnya. sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya,

“Tuhan… Jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti ?”

Tuhanpun menjawab,
“Kamu dapat memanggil malaikatmu… IBU”

Kenanglah ibu yang menyayangimu

Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…

Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu

Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu ?

Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit ?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan

Kembalilah memohon maaf padanya yang selalu rindu akan senyumanmu

Jangan sampai kau kehilangan saat-saat yang kau rindukan di masa datang.

Ketika ibu telah tiada…

Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya

Tak ada lagi
Dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo’akanmu disetiap
hembusan nafasnya

Kembalilah segera…
peluk ibu yang selalu menyayangimu…

Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik untuk ibu

Segala rasa cintaku

6 Agustus 2008 - Leave a Response

Wuihh lama nggak mendengar lagu frida ini..
semalam muncul di radio… jadi kangen..

Segala rasa cintaku telah kuberi
Hingga terbelah hatiku ini hanya untukmu
Takkan ada yang lain
Duhai kasih kaulah satu janji kita selalu
Tak mungkin lagi masa menghapus

Indah cinta bila buai kasih mengalun nada
Putih suci abadi mewangi
Hancur jiwa ini bila kasih tak menyentuh
Cintamu rasamu

Segala rasa cintaku hanya untukmu
Bahagia dalam pelukanmu khayal mimpiku
Takkan ada yang lain
Duhai kasih kaulah satu
Bersama ‘kan selalu
Merajut hadir engkau dan aku

Indah cinta bila buai kasih mengalun nada
Putih suci abadi mewangi
Hancur jiwa ini bila kasih tak menyentuh
Cintamu rasamu

Kuingin jangan pernah berakhir
Dalam doa slalu

Indah cinta bila buai kasih mengalun nada
Putih suci abadi mewangi
Hancur jiwa ini bila kasih tak menyentuh
Cintamu rasamu

Cukup Itu Berapa ?

6 Agustus 2008 - Leave a Response

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya
ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita
berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Offline dulu

1 Agustus 2008 - Leave a Response

Untuk sementara Off dulu nih..

Lagi nggak konsen mo nulis apaan..
Kerjaan banyak banget lagi…

Hati gak karuan mikirin utang …

huaaaaaaaaaaa…

;P

You Needed Me

15 Juli 2008 - Leave a Response

I was imagine, there’s a girl feeling somehow like this song…..

I cried a tear
You wiped it dry
I was confused
You cleared my mind
I sold my soul
You bought it back for me
And held me up and gave me dignity
Somehow you needed me.

You gave me strength

To stand alone again
To face the world
Out on my own again
You put me high upon a pedestal
So high that I could almost see eternity
You needed me
You needed me

And I can’t believe it’s you I can’t believe it’s true
I needed you and you were there
And I’ll never leave, why should I leave
I’d be a fool
‘Cause I’ve finally found someone who really cares

You held my hand
When it was cold
When I was lost
You took me home
You gave me hope
When I was at the end
And turned my lies
Back into truth again
You even called me friend

Kekasih yg tak dianggap

14 Juli 2008 - Leave a Response

Lirik lagu Pinkan Mambo – Kekasih Yang Tak Dianggap

Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu
Aku sang bulan tak menerangi malammu
Akulah bintang yg hilang ditelan kegelapan

Selalu itu yg kau ucapkan padaku

Sebagai kekasih yg tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba mengalah
Menahan setiap amarah

Aku sang bulan tak menerangi malammu
Aku lah bintang yg hilang ditelan kegelapan

Sebagai kekasih yg tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba bersabar
Ku yakin kau kan berubah

Touching my heart…..

Jawaban yang dinanti

12 Juli 2008 - Leave a Response

Wuihh… senang deh akhirnya dapat jawaban darimu
nggak sabar nih menunggu saat itu tiba..

sp3si4l 4,.princ3 p3rsi4

i’m fine br0,.
aQ baik2 aza,.
tak usah kaw tan9isi pr9kuw,.
ratu_buan93t y,.
hehehehe
miz u 2 ,. ;p
bdw bsk p9 aQ OL jam 10.
0cc3

jadi ingat ama lagunya Iwan Fals : Kumenanti seorang kekasih

Bila mentari bersinar lagi
Hatiku pun ceria kembali (asyik)
Kutatap mega tiada yang hitam
Betapa indah hari ini

Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang dihari ini
Adakah dia akan selalu setia
Bersanding hidup penuh pesona harapanku

Jangan kau tak menepati janji
Datanglah dengan kasihmu
Andai kau tak datang kali ini
Punah harapanku

;)

Where are you

10 Juli 2008 - Leave a Response

Sis… kamu ada dimana hari ini,..
sudah 2 hari ini aku menunggumu online,
apa kamu sakit ?? atau mungkin BT ??

Apapun itu kuharap kamu baik-baik aja..

and.. I post a buletin on FS…
Kalo kamu online, saya yakin kamu pasti akan membacanya :

I’ve been looking for you..
apa kamu baik-baik saja ??
nggak lagi sakit kan ??
just send me a smile
agar kutahu kamu baik-baik saja..
miss u sis..
miss our chat…
miss your ;p

See you again.

Pukul 1.40 Siang

9 Juli 2008 - Leave a Response

Bingung juga nih, dari mana harus memulai mengisi blog ini..
Ini adalah penggalan puisi entah siapa penulisnya.. namun, syairnya cukup mewakili perasaanku saat ini.

Dari seorang anak manusia yang coba mengawali hidupnya, sebuah metamorfosis yang tak pernah sempurna.

Aku tak pernah menjadi matahari yang berbagi hangat dengan sempurna yang meluluhkan tiap beku dan memeluk dengan cintayang menyapa hijau dedaunan hingga tiap tunas dapat tumbuh dan bersemi

Aku bukan rembulan yang mengukuhkan cinta dalam gelapnya malam yang menjadi senandung bagi setiap doa yang terpanjatdan menjadi teman berbagi kerinduan pada Sang Pencipta

Aku bukan hujan yang bisa basahi gersang sungai-sungai jiwamuyang melipur haus dan perihmu yang menyejukkan dan mendamaikan tidurmusekedar berharap bisa menjadi sebatang lilin menyala kecil dan redupdan padamu aku belajar arti terang

Maukah kamu menjadi teman bertutur, yang mengingatkan aku untuk tak sombong, untuk tak lupa pada janji dan kesetiaan untuk tulus mencintaiNya, mengingatkanku untuk belajar menghargai arti teman, arti keluarga dan arti hidup sesungguhnya.

Maukah kamu menjadi teman bagi langkah kecilku mengeja keMahaBesaranNya. Untuk belajar lebih tulus dan rendah hati menyapa tiap keindahanNya, dan dengan sahaja menghadirkan kasih sayangNya pada tiap detik tersisa yang kupunya.